Minutes to the last test.
January 14, 2009
jurnal harian yang benar-benar intens, sangat menyebalkan dan memuakkan. bahkan menurutku sangatlah membosankan untuk menulis jurnal ini. BURUK sekali rasanya. maaf jika penulisanku jadi mengecewakan, haha. toh aku tetap manusia
.
____________________________________
Keluar dari hutan setelah hujan reda, aku melanjutkan langkah kembali menuju Archificium. Entah kenapa aku kembali bersemangat untuk menyelesaikan misi-misi dari para instruktor dan petinggi-petinggi perkumpulan Indivis.
Tiba disana, aku dihadapkan dengan kejutan yang luar biasa. bukan kejutan yang menyenangkan, tentunya.
“Baiklah, para Indivis. saya akan memberikan kalian misi terakhir pada tahun ini.” ucap Instruktor.
serentak kami para Indivis terkejut, ini benar-benar terlalu mendadak. Aku tahu Instruktor Grafira adalah orang yang sangat menyebalkan, seenaknya, dan tidak pernah perduli apa yang dikatakan kami, para Indivis.
“misi akhir kalian cukup mudah dibandingkan dengan pertengahan tahun yang lalu, kalian cukup menangkap seekor Vendofer.”
“Haha, itu sih mudah.” celetuk sang Bandit yang berada di belakangku.
“Sangat mudah bukan? tapi saya harap kalian jangan meremehkan ini. Ini tetaplah ujian, dan saya akan memberikan syarat khusus untuk kalian.”
aku dan teman-teman seperkumpulan serentak heboh, berdiskusi kepada teman kanan kirinya, membayangkan syarat gila apalagi yang akan dicetuskan oleh Instruktor Grafira.
“Kalian hanya diperbolehkan menggunakan DUA jenis jebakan untuk menangkap seekor Vendofer. kedua jenis jebakan ini memiliki berbagai tipe yang kalian dapat pilih nantinya, setelah diskusi ini selesai.”
tak ada satupun suara yang terdengar setelah Instruktor berkata. aku mendengar bisikan-bisikan teman di sampingku yang berkata “ini gila!” ataupun cacimakian yang ditujukan kepada Instruktor Grafira. belum sempat aku bernapas setelah mendengar syarat yang sulit tersebut, Instruktor menambahkan syaratnya.
“Dan saya ingin kalian menangkapnya dalam waktu dua hari! dengan ini, misi dimulai! kalian dipersilahkan memilih jebakan yang ada di ruangan sebelah dan mengambilnya.” ucapnya mengakhiri diskusi.
“BENAR-BENAR MENYEBALKAN!” teriak salah satu teman seperkumpulanku.
suara mengeluh banyak terdengar saat kami memilih jebakan-jebakan yang akan kami gunakan untuk menangkap monster raksasa yang menjijikan tersebut. walaupun begitu, terlihat beberapa anak yang menerima misi itu dengan gembira, seakan menerima tantangan yang menarik.
Aku serta semua teman seperkumpulanku serentak berhambur keluar kota dan mulai mencari Vendofer.
Aku memutuskan untuk menggunakan jebakan Vulterg sebagai pengikat dan jebakan Propone untuk membunuhnya.
“Lalu bagaimana aku melukainya tanpa perlawanan?” tanyaku dalam hati.
“Sedikit perlawanan tidaklah masalah, tetapi jika kalian membunuhnya tanpa jebakan, maka misi kalian gagal!” kalimat terakhir dari Instruktor Grafira mengingatkanku.
Hari telah malam, tetapi aku belum menemukan seekorpun Vendofer. nyala obor di sela-sela hutan nampak jelas, kemungkinan besar adalah teman seperkumpulanku.
Aku tidak terlelap, mencari monster itu. Sunyi di hutan membuat perasaanku mencekam, ditambah aku tidak lagi melihat nyala api obor teman-temanku. mungkin mereka beristirahat.
Hari telah terlewati lagi. waktuku semakin sempit.
Ah, dengan keadaan seperti ini, aku tidak bisa berhenti. aku harus menyelesaikan misi ini bagaimanapun juga.
Dan akhirnya, Vendofer itu terlihat di balik pohon besar. Aku bersembunyi di semak-semak, memasang jebakan Vulterg untuk mengekangnya. lalu jebakan Propone ku pasang di balik pohon yang bersebrangan dengan tempat jebakan Vulterg kupasang.
setelah semua siap, aku memberanikan diri dan keluar dari persembunyian untuk memancing Vendofer.
“Monster laknat!” kulempar sebotol cairan kehitaman, racun bakar. Vendofer itu menoleh, dan dengan membabi butanya berlari kearah ku berdiri.
Tamatlah sudah. entah mengapa aku salah memilih Vendofer, monster yang kulawan saat ini lebih kuat dari biasanya. larinya begitu kencang seakan waktu berjalan lambat untukku, tetapi tetap cepat baginya.
Gawat. aku memasrahkan diriku dan melompat ke belakang, tempat aku memasang jebakan.
“Jika ini gagal.. tamatlah aku.” ucapku dalam hati.
Krak,krak!
Suara jebakan Vulterg terdengar. aku membuka mataku yang tadi tertutup karena ketakutan, dan aku lihat Vendofer yang kuserang tadi terkena jebakanku. kakinya tercapit kuat, sangat kuat hingga ia tidak dapat bergerak. namun terjadi hal yang buruk. jebakan Propone ku tidak berfungsi begitu jebakan Vulterg sukses mengenai target. Vendofer itu terus mengerang menggapai kebebasan, menghentak-hentakkan kakinya berharap agar jebakan yang kupasang segera lepas dari kakinya.
Aku harus melakukannya sendiri. Jebakan Propone kuaktifkan secara manual. namun karena aku panik, jebakan itu tidak berfungsi secara sempurna. Vendofer itu tidak langsung mati. aku sudah terlanjur takut, takut karena jika Vendofer ini masih hidup dan melepaskan jebakanku, maka nyawaku akan melayang. Kutinggal begitu saja tanpa mengetahui apa ia sudah mati atau tidak.
Aku kembali ke Archificium dan melepaskan rasa tegang di bar tempatku biasa bersantai. sejenak, aku merasa lega.
namun perasaan lega itu hanya sesaat.
“Bagaimana jika Vendofer itu tidak mati?” tanyaku dalam hati.
Aku tidak menginginkan misi ini gagal hanya karena rasa takutku. aku harus kembali memastikan apakah Vendofer itu telah mati atau belum.
…
Aku berlari secepat mungkin, kembali ke hutan tempatku membunuh Vendofer.
ternyata disana ada seseorang yang memerhatikan Vendofer yang kuincar.
“Keluarlah, sang Begundal. apakah ini Vendofer yang kamu tangkap?”
“..ya, pak Instruktor.” jawabku, sedikit terkejut melihat Instruktor Grafira yang sedang berdiri di depan mayat Vendoferku.
“Hmm.. lumayan. mengapa kau kembali kesini lagi?” tanyanya.
“Saya ingin memastikan apakah Vendofer itu mati atau tidak, pak.”
“Jadi kau tidak memastikan sebelumnya?”
“Saya terlalu takut pak, maaf.”
“Ya, saya akui Vendofer yang kamu bunuh ini sedikit lebih liar daripada umumnya. wajar jika kau takut. tapi tak apa, ia telah mati. dan yang lebih penting, kamu telah berhasil menyelesaikan misimu.” ucapnya.
Rasa lega, tenang dan bahagia bergelora di hatiku. aku kira semua akan berakhir jika misi ini gagal. aku bersyukur.
“Terima kasih banyak, pak!” ucapku sambil membungkuk.
“Ya, ya. kembalilah ke gedung pertemuanku satu bulan lagi, aku akan memberitahukan penghargaan masing-masing yang telah menyelesaikan misi dariku.”
“Baik,pak.”
“Baiklah..saya harus kembali mengelilingi hutan disekitar sini bersama Instruktor yang lain untuk mengetahui hasil tangkapan anak-anak yang lain. Sampai nanti, Begundal.”
Setelah itu, aku kembali ke kota dan mengistirahatkan diriku dari ketegangan yang terjadi hari ini.
Past time, Memories.
January 12, 2009
Today’s journal..
______________________________
Aku berkeliling di kota Archificium sebentar pagi ini, menghirup udara pagi yang masih segar sebelum pedagang-pedagang memenuh-sesakkan kota nantinya.
Aku bertemu beberapa kawan, sekedar menyapa lalu meninggalkannya lagi. Siang telah menjelang, aku bersantai di bar tempat ku biasa berjudi. yah, sejenak cukup membuatku terhibur dengan permainan yang ada disana. hanya dengan beberapa kali melempar dadu, aku memenangkan taruhan dan mendapatkan uang yang cukup.
setelah itu aku memulai kembali perjalanan. Sebelum berangkat, aku bertemu ibundaku yang tinggal di desa dekat Archificium, Oragraire. ia menginginkanku untuk menemui sang Pengemis, adikku satu-satunya. Ia sedang berada di Valdemosqe, kota yang berada di selatan dari Oragraire.
Perjalanan yang cukup panjang, namun ibunda meminjamkanku seekor kuda yang kuat, maka perjalananku semakin singkat. ia ingin aku menjemput sang Pengemis secepatnya bertemu ibundaku.
Kurang lebih tiga hari, aku telah sampai di Valdemosqe. aku bertemu dengan adikku saat masuk ke gerbang utama kota.
“Hei, adikku!” panggilku dari jauh.
Ia menengok kearahku, menyadari panggilanku.
“Oh, kakak! bagaimana kabarmu? baik?” tanyanya.
Aku menjawabnya dengan anggukan. aku memintanya untuk ikut menunggangi kudaku.
“Ayo, kita pergi!”
“Kemana?”
“Kita rayakan pertemuan kita. sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu. aku tahu bar yang menyediakan hidangan yang lezat disekitar sini.” ujarku.
“Yeah, kau yang traktir?”
“Huh, dasar. kau tidak berubah, tetap saja memegang teguh namamu, Pengemis.”
“Hoho, tak selamanya mengemis itu jadi buruk, ya saudaraku. Beginilah hidupku.”
Seiring dengan melangkahnya kuda kami menuju bar tempat aku akan makan, kami pun bersenda gurau, tertawa riang, menikmati rasa persaudaraan yang sempat memudar karena terpisahkan oleh jarak dan waktu.
setelah kami sampai, segera kami memesan hidangan dan bergelas-gelas bir khas bar itu. hidangan yang luar biasa, nafsu makanku meningkat hanya dengan mencium aroma hidangan yang mereka sajikan. ditengah makan, adikku menanyakan hal yang mengingatkanku dengan memori bersama kekasihku, sang Penyembuh.
“Tak biasanya kau se-royal ini menghamburkan uangmu, apalagi untukku. ada apa denganmu?”
“Aku sudah lelah menyimpan semua harta yang selama ini kukumpulkan. semua sia-sia.”
“Mengapa?”
“Ingat sang Penyembuh?”
“Kekasihmu?”
“Ya, mantan kekasihku.”
“Mantan?!” ia menghentakkan tangannya diatas meja tempat kami makan, terkejut.
“Yeah, Mantan.”
“Sejak kapan, ya saudaraku?”
“Bertahun-tahun yang lalu.”
“Telah lama tak bertemu, banyak yang terjadi.” ucapnya.
“Begitulah.”
“Sejak kau berpisahkah kau jadi seperti ini?”
“Banyak perubahan pada diriku. semua yang kusimpan untuknya kini tak ada yang berguna untuk disimpan lagi. maka aku akan menghamburkannya.”
“..Berhati-hatilah dengan perkataanmu, ya kakakku.”
“Kenapa?”
“Kau pernah mengatakan bahwa hidupmu hanyalah untuknya, seluruhnya untuknya.”
“Lalu?”
“Jika kau bermaksud untuk menghamburkan semua yang kau simpan untuknya, maka..” ia menghentikan tangannya yang sejak tadi sibuk memotong daging yang ada diatas piringnya. “Kau bermaksud menghamburkan nyawamu begitu saja, seperti halnya hartamu?” lanjutnya.
“Mungkin. Sekuat apapun diriku, hatiku tetaplah terluka. dan luka itu terus menumpahkan darah segar yang akan mengalir, menghabiskan seluruh kekuatan dalam diriku.” ucapku. “Lalu aku akan kehilangan diriku sendiri. begitulah.” tambahku.
“Sayangilah dirimu lagi, ya kakakku. jika memang pria yang kau inginkan, dunia ini masih memiliki sejumlah pria yang cukup untuk membuatmu bahagia. apakah hanya dia satu-satunya pria di dunia ini?”
“Mungkin ia adalah satu dari sekian banyak pria yang ada di dunia ini. Tetapi, dia adalah satu-satunya yang ada di hatiku. Jika ia pergi, apakah aku harus rela membiarkan lelaki lain masuk kedalam hatiku? setelah ia merobek dinding di hatiku, semakin mudah pula orang akan keluar masuk dalam hatiku. aku, tidak menginginkan hal itu. itu hanya akan memperlebar luka di hatiku. sudah cukup, ya adikku.”
Ia terdiam. ia seakan menyesali apa yang ia dengar dari mulutku.
“Cintaku tak akan pudar begitu saja, adikku.” ucapku meyakinkannya.
“Jika itu keputusanmu, aku tak berhak berkata.” jawabnya.
“Tetapi ia mungkin tidak akan kembali lagi padamu, ya kakakku.” tambah adikku.
“Jika memang ia tidak kembali kepadaku, maka semua kesalahan terletak dalam hatiku. mengapa aku membiarkan hatiku di jamah oleh cintanya, yang pada akhirnya aku harus terlena pada bisikan setan yang menyebabkan kehancuran pada ikatan hati kami.”
“Jangan terus menerus menyalahkan dirimu!”
“Mengapa tidak? aku menganggapnya sebagai hidupku. Aku sangat terpukul saat mendengar kata perpisahan darinya, namun..apa dikata? apakah aku harus memaksanya untuk menghentikan semua keputusan untuk meninggalkan ku? itu hanya akan menyakitinya lagi.”
“Aku tidak bisa menunjukkan semua perasaan ini padanya. bahkan saat ini aku tidak sanggup lagi menangis didepannya, seperti dahulu kala. aku sangat senang bisa menangis di depan orang yang ku sayang. karena dengan itu, aku berharap ia mengerti apa yang kurasakan sesungguhnya. dimata segelintir orang, aku adalah peran yang kuat, tegar. tetapi sebaliknya, aku hanyalah seorang yang akan menangis saat bersedih. namun tuntutan itu menyiksaku, dan membuatku tidak bisa menangis. sekarang, aku tidak dapat menangis lagi sejak kehilangannya. aku harus kembali berbohong didepan semua orang hanya karena aku tidak memiliki lagi orang yang benar-benar kucintai sepenuh hati.”
“Lalu apa aku dimatamu?”
“Kau adalah adikku, adikku tersayang. sayang sekali sampai-sampai aku tidak tega untuk mengganggu pikiranmu.”
“Kau juga sayang kepadanya, bahkan lebih daripada diriku. namun kenapa?”
“Terkadang kita jauh lebih merasa terbebas kepada orang yang paling kita cintai. sampai-sampai kita tidak dapat mengontrol gejolak diri yang terus meledak saat kita tidak dapat membendungnya.”
“Muntahkanlah semua yang ada di benakmu jika memang itu dapat membantumu meringankan beban dihatimu!”
“Maaf, aku.. tidak dapat melakukannya lagi. aku sejenak berpikiran untuk mengakhiri hidup. tapi tidak seperti yang kau pikiran. Haha, aku tidak akan menegak racun bagai prajurit kerajaan yang gagal menjalankan misinya.”
“Lalu apa maksudmu?”
“Dengan mengubah diriku menjadi ‘bukan aku’, perlahan aku akan membunuh diriku pelan-pelan. mungkin setelah itu terjadi, orang yang kau temui nanti bukanlah lagi kakakmu yang kau kenal saat ini. karena itu.. aku minta maaf.”
Sang Pengemis menitikkan airmatanya diatas hidangan yang sedang ia santap. ia menaruh pisau dan garpunya kembali diatas meja, lalu menegak secepat mungkin bir yang ada di gelas besarnya, dan pergi meninggalkanku.
Aku hanya tertawa meringis, seakan ingin menangis namun tidak mengeluarkan air mata.
“Betapa menyedihkannya aku..Ini karena aku hanyalah manusia. Mungkin sedikit lagi hatiku akan membusuk termakan waktu..“
Aku keluar dari bar, dan melihat adikku telah menunggangi kuda yang ibundaku pinjamkan.
“Selamat tinggal, kak. semoga tuhan menyadarkanmu.” ucapnya sambil memecut kuda yang ia tunggangi, meninggalkanku.
“Terima kasih telah menjadi adikku yang terus berusaha membantuku, ya Pengemis..“
Hujan deras membasahi diriku. aku tidak mengeluarkan sedikit suarapun dari mulutku. mataku tertutup.
Saat kusadari..
Mataku..
Mata hatiku.. telah tertutup rapat.
Society.
January 10, 2009
Jurnal kejadian kemarin. rasanya ngantuk sekali kemarin malam, jadi langsung tidur tanpa menulis jurnal.
_______________________________________________________
Rasanya aku tidur pulas sekali pagi ini. aku tetap melanjutkan tidurku hingga siang hari.
Terbangun dari tidurku yang pulas, aku terkejut.
Ah, sudah setahun aku tidak datang ke pertemuan perkumpulanku.
Aku menjabarkan peta dan mencari koordinasi. “Barat” ucapku.
cukup jauh, aku berjalan kurang lebih dua minggu untuk sampai ke perkumpulanku.
Berdiri di kota Archificium, Indivis– Perkumpulanku terdiri dari berbagai macam orang dengan bakatnya masing-masing.
tempat luar biasa untuk membangun bakatku, kupikir. tapi beberapa waktu silam, aku memutuskan untuk melakukan perjalanan.
Sungguh malas ketika aku melangkahkan kakiku kesana, entah mengapa. padahal dulu aku sangat bersemangat setiap datang ke Indivis.
Mungkin karena aku muak dengan pencarian yang selalu mereka berikan kepada anggota-anggotanya. terkadang tidak masuk akal, walau sangat menantang. aku adalah salah satu dari sekian orang yang mengatakan ‘ini benar-benar gila, pencarian yang mereka harapkan selalu diluar batas kemampuan seorang manusia’.
Hari demi hari berlalu hingga aku tiba di Archificium. Aku mampir ke bar tempat biasa aku berkumpul dengan sejawatku sejenak, menyapa penjaga bar dan memesan segelas minuman, minuman yang terbuat dari perasan air jeruk dan saripati daun mulberry yang manis. setelah melepaskan dahaga dari perjalanan yang panjang, tanpa berlama-lama aku segera masuk ke rumah kecil yang berada di pojokan kota. rumah dengan arsitektur khas, dan hanya dihiasi dengan tanaman-tanaman khas padang pasir serta lukisan-lukisan kuno didalamnya. tak ada ruangan lain kecuali tangga menuju bawah tanah.
“Nostalgic..” ucapku tersenyum mengingat tempat yang telah lama tidak aku hampiri ini.
aku menyusuri tangga kebawah, lalu membuka pintu yang menghalangi satu-satunya jalan di lorong itu.
Bunyi pintu yang kudorong membuat seluruh orang di dalam ruangan itu menengok kearah pintu. telah banyak anggota lain yang sedang berdiskusi di dalam, dengan 4 orang instruktor yang sedang menjelaskan misi-misi yang harus kami lakukan.
“Silahkan duduk, Begundal.” ucap Instruktor.
Aku duduk di samping sang Teknisi yang cerdas. di depanku sedang duduk sang Bandit, bandit yang tergolong cukup cantik sebagai pria.
“Hei, lama tak berjumpa, kawan. kemana saja kau selama ini?” tanya sang Bandit.
“Hanya berjalan-jalan ringan disekitar sini.” jawabku bercanda.
“Haha, bisa saja kau. aku selama ini bernaung di seluruh pelosok kota dan tak ada yang mengabarkan tentang keberadaan kamu.” ujarnya.
“Ya..ya. aku melakukan perjalanan yang lumayan jauh, jauh dari sini. hanya menghilangkan kepenatan saja, kok. mengingat misi-misi pencarian dari perkumpulan ini sangatlah kejam. aku muak melakukannya.” jawabku.
“Haha, lalu bagaimana dengan..pencarianmu bersama sang Pendekar dan yang lainnya?” tanyanya.
“Huh, sudahlah. Karendra sangatlah sulit untuk ditangkap, sedangkan sang Penyihir begitu menyebalkan karena merasa dirinya paling hebat. aku ingat sekali wajahnya saat dipilih menjadi penyerang utama untuk mengalahkan Karendra. bahkan aku yang sebagai pemimpin kelompoknya saja tidak dianggap. Sudahlah, jangan dibahas lagi.” ucapku kesal.
“Maaf kawan, tak bermaksud mengganggu pikiranmu.” maafnya.
Kami melanjutkan diskusi sambil mendengarkan celotehan Instruktor yang menarik namun terkesan menyebalkan. terkadang gaya bicaranya membuatku ingin menjambak rambutnya yang sudah tipis itu.
“Jadi, saya harap kalian menerima misi terakhir kalian untuk musim ini.” ucapnya, menutup diskusi.
aku kaget karena mendadak mendengar ‘misi terakhir’.
“Ha? misi terakhir?”
“Yeah, begitulah. entah apa, sebaiknya bulan depan kau datang dan mengetahui apa yang harus kau lakukan untuk tugas terakhir.” ucap Teknisi.
“Huahm, baiklah. kebetulan hanya pertemuan ini saja yang bisa kunikmati. tidak seperti pertemuan yang lain, menyebalkan. ” balasku sambil sedikit tersenyum mengejek.
tawa keras dari sang Bandit dan Teknisi mengisi ruangan itu. aku juga ikut tertawa sekalipun tidak semembahana mereka.
“Sindiran bagus, kawan! hahaha!” ujar teknisi.
“Yeah, right.” balasku.
“Sudahlah, lebih baik kita keluar. untuk apa berlama-lama di ruangan lembab dan pengap ini?” ucap Bandit.
Kami segera melangkah keluar dan menarik udara segar di luar gedung. di depan, ada sang Bijak dan teman-teman yang lain.
“Yo, kawan. kita bertemu lagi.” sapaku.
“Tak terasa sudah beberapa minggu tidak bertemu, kawan. seperti baru kemarin saja.” ucap sang Bijak. “Akan kemana lagi kau sekarang?” tambahnya.
“Berkeliling di sekitar Archificium, mencari tempat yang indah untuk mengistirahatkan diri. beberapa misi belum ku kerjakan dan kebetulan aku akan melewati rute tempat misiku harus diselesaikan.”
“Oh, baiklah. semoga sukses.” ucap sang Bijak.
Aku bergegas keluar kota dan melanjutkan perjalananku.
Sejenak aku berpikir.
Ah, mengapa semua ini harus terjadi?
Aku menyesali setiap perbuatanku, segala yang pernah kuperbuat selama ini.
Malas, ketidakperdulian, emosi bergejolak liar, nafsu, semua itu. semua yang mengontrol diriku ke jalan yang sesat.
Mengapa harus seperti ini?
Aku menyadarinya. Manusia. karena aku hanyalah manusia.
seperti kata pepatah, Penyesalan selalu datang belakangan. sekarang ini, aku menghadapi penyesalan itu.
Entah bagaimana aku harus menghadapinya.
Seseorang, tolonglah aku..
Surrealistic Love
January 9, 2009
Ini jurnalku kemarin, namun aku terlalu malas untuk pulang, maka..aku putuskan untuk pulang dini hari.
_______________________________________
Pagi menjelang.
seperti kemarin, aku sendiri.
Burung berkicau indah, hangat udara pagi hari membuatku semakin nyaman untuk bergelut di dalam selimut.
Lalu,..
Pagi itu aku dikejutkan oleh suara wanita tua, di luar tenda.
“Bangunlah, nak.”, panggilnya.
Aku segera keluar dari tenda untuk mengetahui siapa yang memanggilku.
“Wahai Begundal, kemarilah. Aku ingin memberitahukanmu sesuatu,” ujarnya.
Aku mendekatinya perlahan. ia nampak seperti nenek-nenek biasa, namun ada yang lain dari dirinya.
“Seseorang membutuhkanmu. Pergilah ke arah timur, hingga kamu bertemu desa..yang cukup jauh.” ujarnya.
aku tak mengerti apa yang ia katakan, tapi aku yakin bahwa nenek ini adalah sang Peramal. Semua orang tahu Peramal datang disaat-saat penting dan memberitahukan ramalan yang jitu.
“Baiklah, Peramal. Terima kasih atas pemberitahuannya.” ucapku. Peramal itu membalas dengan anggukan, lalu menghilang bagai angin di depan mataku.
Maka akupun mulai melangkah menelusuri jalan setapak, hingga bertemu desa yang kurang lebih seperti yang dimaksudkan Peramal. alahkan terkejutnya aku, melihat seorang yang sudah sangat kukenal. Pria yang tidak lain dan tidak bukan..adalah kekasih lamaku. Ia melihatku dengan tatapan aneh, mungkin merasa ragu. tidak lama ia melambaikan tangan dengan ceria dan menyapa ku.
“Hei, Begundal! kemari! sudah lama kita tidak bertemu!” ucapnya dari jauh.
Aku menghampirinya dan menjabat tangannya seraya teman biasa. kenangan-kenangan masa lalu ku dengannya kembali mencuat kesetiap penghujung otakku. aku terenyuh, tapi tidak dapat mengeluarkan air mata. aku hanya tersenyum di depannya.
“Apakah kamu yang membutuhkan kemampuan seorang Begundal?” tanyaku.
“Bagaimana kau tahu?” tanyanya.
“Seorang Peramal memberitahukannya,” jawabku.
“Sebuah kebetulan, bukan?” tanyanya bercanda.
“Tidak, ini pasti takdir.” jawabku mantap.
Ia seakan berdalih dengan membuang mukanya, lalu melanjutkan pembicaraan yang lain untuk mengalihkan apa yang kukatakan.
“Jadi begini, beberapa alat keamanan di tempatku banyak yang rusak, nampaknya binatang buas sempat mengobrak-abrik tempatku saat aku tidak ada di rumah,” ujarnya.
“Tak masalah, itu permintaan yang sangat mudah.” aku segera masuk kerumahnya dan mulai memperbaiki perabotan-perabotan yang rusak tersebut.
ditengah kesibukanku, ia melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan lagi.
Ia terkadang menghembuskan napasnya ditelingaku. aku meliriknya dan menyadari bahwa wajah kami telah berada begitu dekatnya. tanpa sadar aku terus memandangi bibirnya yang menawan. hasratku mulai bergelora.
“Sadarkah engkau bahwa aku bukan lagi milikmu?” tanyaku.
“Tentu,” jawabnya.
“Lalu apa yang kamu perbuat? apa kau ingin memancing nafsuku?” Tanyaku sedikit menekan suara.
“Hei..hei. tenanglah. datang dari mana rasa percaya diri itu?” ejeknya.
Aku hanya diam menahan malu. muka ku semakin merah karenanya.
“Sudahlah. jangan ganggu ak–”
Ia mendaratkan kecupan kecil di pipiku. waktu seakan berhenti saat ia melakukannya. alih-alih aku berkata, aku hanya diam, sedikit tersenyum.
“Bagaimana aku bisa senang setelah semua ini terjadi? apakah..perasaanku selama ini masih tersimpan di dalamnya lubuk hatiku?” tanyaku dalam hati.
“Maafkan aku, sayang.” ujarnya tanpa sebab. yang jelas, aku terkejut saat ia memanggilku dengan panggilan ’sayang’. sudah lama aku tidak mendengar dari bibirnya. aku hanya menunduk sambil terus melanjutkan pekerjaanku.
setelah semua pekerjaan itu selesai, aku menumpang beristirahat sejenak di rumahnya. cukup letih untuk memperbaiki sebegitu banyaknya barang yang ada di rumahnya.
Baru sejenak, aku telah terlelap.
“Hei, bangun!” panggil suara laki-laki yang tidak lain adalah dia.
“Hmm? kenapa, sayang?” tanyaku.
“Aku mencintaimu..” ujarnya sambil mengecup bibirku. Aku terkejut dengan apa yang ia perbuat.
aku hanya menjawab perkataannya dengan pelukanku.
Tanpa sadar, aku merasa ada sesuatu yang menyentuh tubuhku, menjalar bagaikan tanaman anggur yang merambat. ternyata itu tangannya.
Tangannya terus melata keseluruh tubuhku, hingga menyentuh dadaku. aku memekik pelan karena terkejut.
“Hei! apa yang kamu lakukan? apa kamu sudah gila?” Tanyaku menggertak.
“Aku mencintaimu selalu, sayang..” ia hanya menjawabnya dengan jawaban itu, sembari mencium telingaku dengan sangat liar.
“Hen–Hentikan!” ucapku. aku sudah tak tahan.
Tubuhku serasa terbakar. terbakar api hasrat dan nafsu. aku sudah tak perduli lagi apa yang akan ia lakukan.
Ia terus melanjutkannya hingga…
“Aaa!” aku berteriak kencang.
Ternyata itu semua mimpi. Aku memimpikan apa yang telah terjadi pada masa lalu, aku dengannya. aku hanya ingin menangis dan menangis mengenang semua yang telah terjadi. Tetapi bukannya menangis, aku malah tertawa.
“Hei, bagaikan orang gila yang tertawa saat menerima bangunnya,” ujarnya.
“Ah, berisik. kau tidak tahu apa yang ku impikan.” balasku.
“Hmm?” ia menunjukkan wajah ingin tahu.
“Aku memimpikanmu. kamu yang dahulu pernah ada dihatiku.” ucapku.
“Hoo, lalu..apakah sampai saat ini aku masih ada dihatimu?” tanyanya.
“Tentu. aku masih sangat mencintaimu sekalipun kita telah berpisah.” jawabku mantap.
“Sebegitunya, kau mencintaiku. aku tidak sanggup menatapmu saat ini,” ucapnya membuang muka. telinganya sedikit memerah.
“Mengapa kamu masih mencintaiku, sayang? setelah apa yang aku lakukan padamu?” tanyanya.
“Perbuatan apapun takkan dapat mengalahkan cintaku padamu.” jawabku.
Matanya berkaca-kaca mendengar perkataanku. lalu ia menghampiri dan memelukku.
“Terima kasih..” bisiknya.
Aku mendorong pundaknya yang tadi memelukku, lalu kutatap matanya dalam-dalam.
“Aku juga mencintaimu, terus mencintaimu.” ucapnya padaku.
Aku tersenyum dan mendekatkan wajahku dengan wajahnya.
Ia menciumku, sangat hangat- sampai-sampai aku tak sadar melinangkan air mata.
“Terima kasih, sang Penyembuh. selamat tinggal, aku yakin kita akan bertemu lagi, bukan sebagai teman. tapi sebagai kekasih yang saling mencintai.” ucapku. Aku berdiri dari kasur tempatku tidur tadi, lalu mengambil jubah panjang yang selalu kukenakan dan pergi darinya.
aku terhenti saat mendengar apa yang ia ucapkan terakhir kali.
“Aku akan selalu mencintaimu, sekalipun kita telah berpisah.”
Aku tertegun, menahan air mata, lalu membalas ucapannya.
“Disaat hari itu tiba, aku akan kembali kepadamu, menciummu, dan mengatakan bahwa ‘aku dilahirkan hanya untukmu, miliki dan jagalah aku’.” lalu aku pergi meninggalkannya. rasa perih dan bahagia bercampur di dalam hatiku. di bawah naungan hujan aku terus melangkah melanjutkan perjalananku. tertawa dan menangis. senang dan sedih.
Aku, hanyalah manusia. aku akan tertawa saat senang, dan menangis saat sedih. jika memang bukan wajahku yang menunjukkan perasaan itu, hatikulah yang akan mewakilinya.
Evil’s Instigation.
January 7, 2009
Entah kenapa aku harus menuliskan cerita ini.
_________________________________________________
Terbangun pada pagi hari, aku merasakan tubuhku tidak berfungsi seperti biasa. seakan lumpuh, aku tidak dapat berdiri dari tempatku terlelap. mataku terbuka sedikit, namun sangat berat untuk membelalakkannya.
Ada apa ini? ada yang aneh pada tubuhku. Aneh, aku merasa senang dan nikmat sekalipun lemah seperti ini. aku merasa ada sesuatu yang menggelora dalam tubuhku, emosi yang membara. rasanya seperti cinta, tapi aku yakin ini bukanlah cinta. badanku tidak merasakan rasa panas, hanya dingin menyelubungi. namun gejolak itu seakan merangsang diriku untuk menikmati ‘kelumpuhan’ ini. selang beberapa waktu, akupun kembali terlelap.
tak kusadari, aku kini sendiri. aku terbangun dari tidurku, dan melangkah keluar tenda. kepenatan yang sejak minggu awal kemarin menghantuiku sempat hilang, mungkin karena perjalananku bersama teman-teman kemarin, terasa begitu menyenangkan.
Tapi kini aku harus menghadapi kenyataan lagi. perjalanan seorang diri, dengan kemampuanku yang minim ini. bisa apa Begundal sepertiku? didalam pertarungan, yang paling mudah untuk dibunuh hanyalah aku. hanya bermodalkan belati dan beberapa kantung racun untuk dilumuri ke belati, aku harus menjalankan hal yang sama seperti sang Pendekar, Pahlawan, Penyihir, Pemanah, dan lain-lainnya. dengan tepukan besar raksasa yang biasa akan menghadang perjalananku, aku segera tamat.
aku dihadapkan dengan pola pikir lain.
“Seandainya, aku berhenti melakukan perjalanan ini dan hidup tenang tanpa melakukan apa-apa..”
“Aku akan mati membusuk tanpa menjadi orang yang berguna.”
“Tetapi, bila aku melanjutkan perjalanan ini dengan kekuatan yang sangatlah tidak cukup..”
“Mungkin aku malah akan tersiksa sepanjang perjalananku, menderita karena luka dari setiap serangan makhluk-makhluk yang akan menghalangiku selama perjalanan.”
“Lalu, aku harus apa?”
Bisikan setan menusuk telingaku.
“Tinggalkanlah semua perjalananmu. masih ada yang bisa kau dapatkan sekalipun tidak melakukan perjalanan. yaitu KEBEBASAN!” bisiknya.
aku meragukan hal itu. aku terus berpikir.
Aku melakukan persiapan untuk melanjutkan perjalanan, memulainya dengan mengasah belati ku yang semakin hari semakin tumpul.
“Sudahlah, manusia. untuk apa kau bersusah payah? Hentikanlah jerih payah sia-sia mu itu. kau hanya akan mati tergeletak bagai sampah pada akhirnya. Lepaskanlah semua itu.”
Tanganku bergetar, lalu aku berteriak histeris. aku melempar batu asah dan belati yang tadi ada di tanganku. aku kembali masuk kedalam kemah, lalu memaksa diri untuk tidur.
satu lagi hal yang kusadari.
Aku hanyalah manusia, manusia yang rapuh. hanya dengan sedikit sentuhan setan, aku telah berhasil menggagalkan semua hal yang seharusnya bisa kujalani. Aku kehilangan kepercayaan diri dengan mudah. Huh, tragis.
Astray.
January 6, 2009
Melanjutkan jurnal yang berupa cerita lepas sebelumnya ^^, .
___________________________________________________________________
Malamku terusik oleh bisingnya suara dalam pikiranku.
Oh, apa lagi ini?
Aku terus terjaga sejak malam, hingga matahari mulai menampakkan cahayanya. Entah mengapa cahaya matahari hari ini begitu menyebalkan di mataku. Mengingat sang teman arogan, mungkin.
Aku meninggalkan kemah tempatku dan teman-teman seperjalanan menetap sementara, mengelilingi hutan. setelah cukup dalam aku melangkah ke dalamnya, aku duduk di hamparan rumput yang masih basah karena embun.
Ahh, menyenangkan bisa merasakan ketenangan seperti ini. aku merasa rileks, pikiranku tenang, santai. aku lupa, aku belum sempat mengasah belatiku yang semakin tumpul karena sering digunakan.
“…”, aku terdiam sejenak, “Nanti saja.” ujarku dalam hati.
Aku terus memandangi langit biru yang tertutup oleh pepohonan di hutan. cahaya-cahaya yang menembus dedaunan terlihat begitu indah, tidak seperti kuatnya matahari menyemburatkan cahayanya hingga ke pelosok mataku.
Tanpa kusadari, aku telah melewati kurang lebih enam jam, hanya untuk berdiam diri.
“Aku harus kembali,” ujarku.
Aku kembali melangkah ke perkemahan. ternyata ada seseorang yang datang ke perkemahan kami. tidak lain tidak bukan, ia adalah orang yang juga pernah melakukan perjalanan denganku. tidak bisa kubilang sahabat lama, tetapi ia juga menjalani perjalanan yang tidak jauh berbeda denganku. hanya berbeda kelompok setelah perpisahan beberapa waktu yang lalu.
“Yo, sobat. bagaimana perjalananmu?” tanyaku ramah.
“Sudahlah, kawan. jika saja aku dapat memberikanmu jawaban positif, aku akan memberikannya. tapi lihatlah, aku saat ini melakukan perjalanan seorang diri. satu persatu dari kelompokku terus menyerah,” jelasnya.
“Nasib tidaklah selalu baik, kawan. begitu juga kelompokku.” aku menjawabnya dengan senyum kecil yang menyedihkan.
Aku baru menyadari, hanya tinggal kami berempat.
“Hei, kemanakah perginya sang Pemanah?” tanyaku kepada sang Pendekar.
“Kurasa ia tidak sanggup menjalankan perjalanan bersama kita,” jawab Pendekar. “Mungkin karena itu..”, tambahnya.
“Hmm. sejak awal aku telah melihatnya tidak sesuai dengannya.” balasku.
“Begitulah.” ia menjawab santai.
teman aroganku–Sang Penyihir, keluar dari tendanya tanpa rasa bersalah setelah apa yang ia lakukan kemarin. karena tindakannya, sang Pemanah memutuskan untuk pergi dari kelompok kami.
“Cih, sebenarnya bisa apa pemanah itu?”, umpat sang Penyihir.
“Ha, kau kira karena siapa ia pergi?” sindir sang Pendekar.
“Aku juga sudah muak dalam kelompok ini, aku pergi.” sang Penyihir berkata seakan ia tak perduli, lalu pergi meninggalkan kami. menyisakan kami bertiga.
Aku, sang Berandal, dan kedua temanku, sang Pendekar dan sang Bijak.
kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan bertiga. sebelumnya, kami harus kembali menemukan sang Pemanah. aku yakin ia akan kembali bergabung jika mengetahui sang Penyihir telah tidak bersama kami lagi.
“Lalu bagaimana kita bisa menemukannya?” tanyaku kepada sang Bijak.
“Tenanglah, kawan. seiring berjalannya waktu, aku yakin kita pasti bertemu lagi dengannya. dalam waktu yang singkat.” jawabnya yakin.
Aku meyakini ucapan sang Bijak.
Tanpa kusadari, kami telah melakukan perjalanan yang cukup panjang. hari demi hari kami lewati bersama, merasakan perjalanan yang tak bertujuan tersebut. Hingga kami menemukan kota yang cukup besar. Duscabis, orang-orang bilang.
entah apa yang kami cari disana, tapi kami sangat menikmati kota tersebut. begitu banyak hal-hal yang menarik. khususnya sang Bijak, ia sangat tertarik pada beberapa tongkat sihir yang luar biasa indahnya disana. sedangkan aku dan sang Pendekar sedikit melirik ke tempat penjualan senjata. namun pada akhirnya, aku dan Pendekar hanya membeli peralatan mengasah saja. sedangkan sang Bijak, hanya tertawa meringis karena melupakan fakta bahwa ia tidak memiliki emas sama sekali untuk membeli tongkat sihir yang tergolong mahal.
kami pun memilih untuk melanjutkan perjalanan. sesaat setelah membangun kemah, aku berpikir kembali.
“apa yang kulakukan? bukankah aku memiliki masalah yang belum terselesaikan?” ucapku dalam hati.
Huh, semakin sadar diriku, aku hanyalah manusia. terkadang aku malah berlari dan menghindar dari kenyataan saat menghadapi masalah itu sendiri. Cih, menyedihkan.
Start!
January 5, 2009
Yeah, jurnal perdanaku akhirnya dimulai.
Ini hanyalah sebuah cerita lepas dariku. sedikit refreshing untuk melepaskan penatnya kenyataan, lah.
________________________________________________________________________________
Oh my, hari-hari kebebasan telah berakhir. tegangnya adrenalin yang terus memompa setiap jaringan tubuhku, membuatku semakin gila. otakku bagai diracuni berbagaimacam hal yang bisa membunuhku seketika. Kini aku kembali kedalam liarnya dunia.
Ya, masalah. Masalah menjadi penyebab semua ini.
Sahabatku sering berkata untuk tidak memikirkan masalah. “Lebih baik temukan solusi.” ucapnya.
Right, aku sangat memahami apa yang ia utarakan padaku. tapi, apa?
Solusi mudah terlintas di pikiranku. sangat mudah untuk menemukan penyelesaian dari sebuah masalah.
Tapi dalam kenyataannya, apakah seperti itu? baru saja melangkahkan satu tapak kaki, aku sudah mengeluh. mengeluh melihat betapa tidak sempurnanya hentakan kakiku saat melangkah. Aku hanya meringis melihatnya. Tanpa ekspresi.
Kali ini, masalah terjadi kala keselarasan di dalam kelompokku dihadapkan dengan konflik internal yang cukup pelik.
Dikala kami memiliki keahlian masing-masing, ada secercah rasa tidak menghargai diantara satu dari kami. aku tidak menginginkan untuk menghujatnya, bahkan memojokkannya karena ia bertingkah seperti itu, namun..
Tidak bagi teman-temanku yang lain. Mereka melihatnya seakan-akan mereka terhina karena tingkahnya yang berkata “Tanpa kalian, akupun bisa melakukannya”.
Aku sangat memahami situasi seperti ini, aku tetap berusaha sabar menghadapi teman aroganku. aku meminta maaf, mewakili kelompokku kepadanya. aku merasa bersalah karena setelah aku dipilih menjadi ketua, aku malah tidak memimpinnya dengan baik.
“Aku minta maaf.” ujarku penuh penyesalan.
Ia tidak menggubris hal itu dan terus berkata bahwa ia tidak mau tahu bagaimana caranya agar ia tetap mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan, sementara ia hanya bekerja setengah hatinya. Harga diriku terinjak.
Bukan berarti aku harus mengeluarkan belatiku dan menghunuskannya demi menunjukkan rasa itu, tentu. Mengapa harus? hanya akan membuang sisa-sisa tenagaku yang terus, semakin lama semakin habis ditelan perjalanan ini.
Malam itu, teman-temanku yang lain merencanakan hal tanpa sepengetahuan sang teman arogan itu. tentunya mereka ingin meninggalkannya begitu saja, demi mengharapkan agar ia terdampar tanpa bantuan sedikitpun, lalu berakhir dengan membusuk menjadi mayat.
Tentu aku tidak menginginkannya. sekalipun dengan tingkahnya yang seperti itu, aku tidak ingin kehilangan temanku yang berharga. setidaknya, kemampuannya sangat kubutuhkan untuk kelangsungan kelompok perjalananku. namun di lain hal, aku tertekan mengingat apa yang ia lakukan padaku, kami semua.
“Haruskah kupertahankan dia? ataukah kubiarkan dia?” tanyaku dalam hati.
Ah, sudahlah. aku tidak ingin terlalu lelah memikirkannya. jika sampai aku terus memikirkannya dan mengganggu istirahatku, aku hanya akan memperburuk situasi nanti. aku biarkan perasaan egois menelan pikiranku.
Aku telah berpikiran sama dengan teman-temanku yang lain.
“Aku lebih rela kehilangan nyawaku ditengah perjalanan tanpanya, daripada aku harus hidup dengan penuh cercaan dibawah kemampuannya.”
Huh, aku rasa aku tetaplah manusia. hanya memikirkan diri sendiri.